Menanti Sebuah Jawaban


“EUGENIEEE…….!!! Bangun kamu. Kalau kamu ngga bangun sekarang pokoknya mamah ngga mau bangunin kamu lagi nanti.”
          “Iya mah aku udah bangun ni”
          Teriakan mamahnya Eugenie memang selalu saja bisa membangunkannya dari mimpi tentang cowok idamannya. Bergegas Eugenie bangun dan kekamar mandi untuk bersiap ke sekolah. Saat sedang mandi Eugenie sering berpikir kenapa matahari tak pernah punya niat untuk telat muncul? Jadi aku kan ngga perlu denger teriakan mamah pagi-pagi. Ada-ada saja memang pikiran Eugenie, tapi bagaimana ya jadinya dunia kalau matahari telat muncul?

╬╬╬╬╬╬

          “Tadi gue ketemu Garry dong! Dia lagi dipendopo tapi tadi dia sama teman-temannya kayak ngetawain gue gitu, jadi salting ni gue. Kenapa ya?” teriak Eugenie sesampainya dikelas dengan sumringah.
          “hahaha… nahlo ‘Gen jangan-jangan Garry udah tau kalau lo suka sama dia” sahut mega menakuti Eugenie.
          “yah… gemana dong kalau dia tau? temen-temennya juga tau lagi?” panik Eugenie.
          “Yaudahlah ‘Gen biar aja dia tau. kalau nyampe nanti dia lulus, terus dia masih ngga tau gemana? Nyesel lo seumur hidup” dengan gaya bicara yang berlebihan Mercy seperti menceramahinya.

          Kalau aku pikir-pikir iya juga sih, kalu dia tidak membuat pengakuan atau memulai mengenal cowok itu dia akan menyesal. Karena ini adalah tahun terakhir kak Garry di SMAN 98 ini. Kak Garry yang adalah siswa dikelas XII IPS 1 itu disukai Eugenie sejak acara peringatan tujuhbelasan disekolah. Aku sendiri tidak tau pasti bagaimana Eugenie bisa menyukai dia. Karena saat acara itu Eugenie melihat kak Garry yang hanya mondar-mandir, mungkin kak Garry adalah seksi sibuk acara tersebut. “ih tu cowok lucu banget! Bantet-bantet gemana gitu” itu kata Eugenie setiap ditanya kanapa ia bisa menyukai kak Garry. Saat itu ia belum tau nama kak Garry, sepertinya Eugenie love at first sight pada kak Garry. Setelah hari itu Eugenie terus mencari tau tentng apa yang berhubungan dengan kak Garry dan sampai saat ini pun Eugenie masih mengagumi kak Garry.

          Sekarang ia telah menyimpan perasaannya ke kak Garry selama 8bulan. Aku sedikit merasa geregetan memang sama Eugenie dan mungkin bukan aku saja, tapi juga Mega, Mercy, dan Regina. Pasalnya Eugenie tak pernah berani menunjukan perhatian khusus atau pendekatan pada kak Garry (alasannya adalah karena dia cewek dan sepertinya tidak pantas). Eugenie terlalu membiarkan perasaannya tersakiti karena perasaannya yang ia pendam.

          “ah lo mah ngga berani sih ‘Gen ke dia” ledek Regina.
          “Siapa bilang? Waktu itu gue sms dia. Tapi kan ngga dibales. Terus gue nge-chat dia dari facebook juga ngga dibales.”
          “Iya lo sms, tapi lo ngga nyantumin nama ya jelaslah ngga dibales.” Jawabku.
          “Bener tuh kata Dorra, makanya nyantumin nama.”kata Mega.

          Memang sih salah kalau aku terus mendesak Eugenie untuk berterus terang pada kak Garry apalagi dia itu kakak kelas. Usaha Eugenie juga sudah lumayan banyak dan berani. Aku ingat waktu itu dia pernah membuat coklat hanya untuk kak Garry saat valentine’s day, walaupun bukan ia sendiri yang memberinya pada kak Garry. Yang memberikan pada kak Garry adalah kak Ismi temenya Mega, tapi saat kak Ismi memberikan pada kak Garry ia memberi tau siapa dan dari kelas berapa Eugenie, jadi pastinya dia tau tentang Eugenie yang menyukainya.

╬╬╬╬╬╬

“Gen masa si Eiza nanya ke gue siapa yang suka sama Garry.” Kata Mega
          “yah kok Eiza bisa tau?” sahut Eugenie.
          “Tapi dia tau tentang coklat itu. Tapi gue bingung kata Eiza si Garry tuh ngga tau lo. Terus gue kasih tau aja ke Eiza kalau yang suka Garry itu lo.”
          “Maksudnya dia ngga tau apa?”
          “Ngga tau juga gue, kan waktu ngasih coklat kak Ismi udah ngasih atu yang ngasih tu coklat itu lo ‘Gen”
          “Sia-sia ya perjuangan gue, padahal gue udah berani-beraniin ngasih plus buatin coklat buat dia tetap aja ngga dianggep.”
          “Jahat banget deh tu orang, jelas-jelas lo sering ketangkap basah merhatiin dia kalau dikantin, lo juga pernah sms dia, pernah nge-chat dia, bahkan dia sendiri pernah di ledekin ma temen-temennya kalau lo lewat dan sekarang dia bilang dia ngga tau lo? Parah! Makan hati banget tau kalau kayak  gini. Gue sebagai temen lo ikutan makan hati ni.” kesal ku.
          “Udah ‘Gen jangan nangis lagi ah, mungkin buat dia ini masih belum keliatan banget kali kan dia emang orangnya dingin. Jangan nyerah gini aja lo kan pernah bilang pokoknya perjuangan masih harus ada sampai yang terakhir pas dia wisudaan. Udah yuk kita pulang aja udah bel tuh.” Kata Regina dan dengan Mercy mengiyakannya.

Seperti biasa sepulang sekolah aku, Eugenie, Mega, Mercy dan Dwi ngobrol-ngobrol dipendopo sampai bel berhentinya semua kegiatan disekolah berbunyi barulah kami pulang. Tapi hari ini sekolah terlihat sepi, langit tidak terik tapi juga tidak ada awan hitam tebal yang menutupinya, hingga titik-titik gerimis membasahi halaman. Sore itu kami curhat satu sama lain, aku iseng memutar lagu padi menanti sebuah jawaban.

          “jiah lagunya beginian.” Mata Mega melirik Eugenie.
          “Ngeledek mulu sih lo pada, ganti kenapa lagunya.” Rengek Eugenie.
          “Yang punya HP siapa?”
          “Lo.”
          “ Yaudah terserah gue dong ‘Gen”
Setulusnya aku akan terus menunggu
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu
Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
Semoga kau tau isi hatiku
Dan seiring waktu yang terus berputar
Aku masih terhanyut dalam mimpiku

Awalnya aku dan yang lain hanya ledek-ledekan dan bercanda tapi ditepat pada lirik itu Eugenie meneteskan airmatanya. Aku dan yang lain sedikit merapat. Ia pun mencurahkan semua unek-unek tentang kak Garry.

          “Ke-enam kalinya dia nangis karena Garry” Bisik Mega ke aku
          “Hah? Lo ngitungin? Masa sih seorang Eugenie yang agak diragukan tentang cewek atau cowoknya bisa nangis enam kali? Buat cowo lagi?” Tanyaku ngga percaya.
Eugenie memang tersakiti dengan sikap dingin kak Garry padanya tapi perasaannya tak pernah berubah, malah mungkin bertambah. Ia pun tidak menyerah begitu saja. Karena dukungan dari aku dan yang lain ia berencana memberikan stick drum pada kak Garry karena ia  adalah pemain drum. Sesuai dengan perkataannya, perjuangan terakhirnya saat wisudaan nanti ia akan memberikannya itu pun nanti.

          “Gue kangen Garry nih. Kelas XII udah ngga akan masuk lagi.”
          “Sabar ya ‘Gen, tapi tadi gue liat ada yang masuk.”
          “Iya ada beberapa, tapi orang kayak Garry mana mau dateng kesekolah buat main doang?”
          “Tanyain kabarnya dong lewat sms atau Fb” ledek Mercy

          Hari itu juga Eugenie iseng-iseng lagi mengirim ucapan selamat buat kak Garry karena telah menyelesaikan ujian melalui sms dan Fb dan ngga disangka itu dibales sama kak Garry. Eugenie yang girangnya bukan main langsung memberi kabar padaku dan yang lain. Terdengar sepele sih tapi engga buat Eugenie karena ini pertama kalinya kak Garry bersikap seperti itu. Aku sebagai temannya ikut senang dengan semua ini. Ternyata perjuangan Eugenie yang tadinya nampak sia-sia kini terlihat hasilnya. Yah paling tidak ia bisa menjalin pertemanan dengan kak Garry sekarang itukan bisa jadi lampu hijau buat Eugenie.

Dua hari kemudian disekolah
          “Gue butuh air ayo ah kekantin!!!!!!.” Kata Mega dengan gaya berlebihannya. “MERCY !!!! Cepet kenapa haus ni gue” menarik tangan Mercy.
          “Mas Nescafe 3 dong.” Kataku pada penjual minuman dkantin
          “Millo 2 ya mas” kata Eugenie
          “Kok ngga ganti baju sih? Kan udah bel dari tadi.”
          “Baru selesai olahraganya beli minum dulu aus.” Sahut Eugenie dingin tanpa menengok.
          “Sombong banget deh, kemarin baru nge-wall
          “Eh… hmmm maaf ka ngga tau.” Eugenie pun salah tingkah sendiri ketika melihat kasebelah kanannya mendapati kak Garry disampingnya dan bukan hanya itu, yang tadi mengajaknya ngobrol adalah kak Garry. Aku aja melongo melihat kejadian itu.
          “’Gen duluan ya mau ke pendopo, tadi janjian sama temen-temen di pendopo.”
          “Oh iya ka.” Sahut Eugenie dan menebar senyum paling manis yang ia punya. Kak Garry pun berlalu meninggalkan Eugenie.
          “huahahaha cie yang di ajak ngomong ma Garry” Ledek  aku dan yang lain.
“Gue ngga mimpi kan?” tanyanya ngga percaya.
          “ngga kok Eugenie sayang, itu hasil usaha lo” Kata Regina dengan senyumnya dan juga senyumku dan yang lain.

          Aku melihat mata Eugenie berkaca-kaca ketika sampainya dikelas, senang rasanya melihat dia bahagia. Aku dan yang lain memeluknya. Walaupun dia belum menjadi siapa-siapanya kak Garry, tapi paling tidak ia bisa menjalin persahabatan ataupun pertemanan dengan kak Garry itu sudah cukup jadi lampu hijau. Gelar kak Garry yang dingin telah kuhapus jauh-jauh dari pikiranku karena ia berbeda jika sudah mengenalnya.

╬╬╬╬╬╬

No comments:

Post a Comment

Saturday, December 04, 2010

Menanti Sebuah Jawaban



“EUGENIEEE…….!!! Bangun kamu. Kalau kamu ngga bangun sekarang pokoknya mamah ngga mau bangunin kamu lagi nanti.”
          “Iya mah aku udah bangun ni”
          Teriakan mamahnya Eugenie memang selalu saja bisa membangunkannya dari mimpi tentang cowok idamannya. Bergegas Eugenie bangun dan kekamar mandi untuk bersiap ke sekolah. Saat sedang mandi Eugenie sering berpikir kenapa matahari tak pernah punya niat untuk telat muncul? Jadi aku kan ngga perlu denger teriakan mamah pagi-pagi. Ada-ada saja memang pikiran Eugenie, tapi bagaimana ya jadinya dunia kalau matahari telat muncul?

╬╬╬╬╬╬

          “Tadi gue ketemu Garry dong! Dia lagi dipendopo tapi tadi dia sama teman-temannya kayak ngetawain gue gitu, jadi salting ni gue. Kenapa ya?” teriak Eugenie sesampainya dikelas dengan sumringah.
          “hahaha… nahlo ‘Gen jangan-jangan Garry udah tau kalau lo suka sama dia” sahut mega menakuti Eugenie.
          “yah… gemana dong kalau dia tau? temen-temennya juga tau lagi?” panik Eugenie.
          “Yaudahlah ‘Gen biar aja dia tau. kalau nyampe nanti dia lulus, terus dia masih ngga tau gemana? Nyesel lo seumur hidup” dengan gaya bicara yang berlebihan Mercy seperti menceramahinya.

          Kalau aku pikir-pikir iya juga sih, kalu dia tidak membuat pengakuan atau memulai mengenal cowok itu dia akan menyesal. Karena ini adalah tahun terakhir kak Garry di SMAN 98 ini. Kak Garry yang adalah siswa dikelas XII IPS 1 itu disukai Eugenie sejak acara peringatan tujuhbelasan disekolah. Aku sendiri tidak tau pasti bagaimana Eugenie bisa menyukai dia. Karena saat acara itu Eugenie melihat kak Garry yang hanya mondar-mandir, mungkin kak Garry adalah seksi sibuk acara tersebut. “ih tu cowok lucu banget! Bantet-bantet gemana gitu” itu kata Eugenie setiap ditanya kanapa ia bisa menyukai kak Garry. Saat itu ia belum tau nama kak Garry, sepertinya Eugenie love at first sight pada kak Garry. Setelah hari itu Eugenie terus mencari tau tentng apa yang berhubungan dengan kak Garry dan sampai saat ini pun Eugenie masih mengagumi kak Garry.

          Sekarang ia telah menyimpan perasaannya ke kak Garry selama 8bulan. Aku sedikit merasa geregetan memang sama Eugenie dan mungkin bukan aku saja, tapi juga Mega, Mercy, dan Regina. Pasalnya Eugenie tak pernah berani menunjukan perhatian khusus atau pendekatan pada kak Garry (alasannya adalah karena dia cewek dan sepertinya tidak pantas). Eugenie terlalu membiarkan perasaannya tersakiti karena perasaannya yang ia pendam.

          “ah lo mah ngga berani sih ‘Gen ke dia” ledek Regina.
          “Siapa bilang? Waktu itu gue sms dia. Tapi kan ngga dibales. Terus gue nge-chat dia dari facebook juga ngga dibales.”
          “Iya lo sms, tapi lo ngga nyantumin nama ya jelaslah ngga dibales.” Jawabku.
          “Bener tuh kata Dorra, makanya nyantumin nama.”kata Mega.

          Memang sih salah kalau aku terus mendesak Eugenie untuk berterus terang pada kak Garry apalagi dia itu kakak kelas. Usaha Eugenie juga sudah lumayan banyak dan berani. Aku ingat waktu itu dia pernah membuat coklat hanya untuk kak Garry saat valentine’s day, walaupun bukan ia sendiri yang memberinya pada kak Garry. Yang memberikan pada kak Garry adalah kak Ismi temenya Mega, tapi saat kak Ismi memberikan pada kak Garry ia memberi tau siapa dan dari kelas berapa Eugenie, jadi pastinya dia tau tentang Eugenie yang menyukainya.

╬╬╬╬╬╬

“Gen masa si Eiza nanya ke gue siapa yang suka sama Garry.” Kata Mega
          “yah kok Eiza bisa tau?” sahut Eugenie.
          “Tapi dia tau tentang coklat itu. Tapi gue bingung kata Eiza si Garry tuh ngga tau lo. Terus gue kasih tau aja ke Eiza kalau yang suka Garry itu lo.”
          “Maksudnya dia ngga tau apa?”
          “Ngga tau juga gue, kan waktu ngasih coklat kak Ismi udah ngasih atu yang ngasih tu coklat itu lo ‘Gen”
          “Sia-sia ya perjuangan gue, padahal gue udah berani-beraniin ngasih plus buatin coklat buat dia tetap aja ngga dianggep.”
          “Jahat banget deh tu orang, jelas-jelas lo sering ketangkap basah merhatiin dia kalau dikantin, lo juga pernah sms dia, pernah nge-chat dia, bahkan dia sendiri pernah di ledekin ma temen-temennya kalau lo lewat dan sekarang dia bilang dia ngga tau lo? Parah! Makan hati banget tau kalau kayak  gini. Gue sebagai temen lo ikutan makan hati ni.” kesal ku.
          “Udah ‘Gen jangan nangis lagi ah, mungkin buat dia ini masih belum keliatan banget kali kan dia emang orangnya dingin. Jangan nyerah gini aja lo kan pernah bilang pokoknya perjuangan masih harus ada sampai yang terakhir pas dia wisudaan. Udah yuk kita pulang aja udah bel tuh.” Kata Regina dan dengan Mercy mengiyakannya.

Seperti biasa sepulang sekolah aku, Eugenie, Mega, Mercy dan Dwi ngobrol-ngobrol dipendopo sampai bel berhentinya semua kegiatan disekolah berbunyi barulah kami pulang. Tapi hari ini sekolah terlihat sepi, langit tidak terik tapi juga tidak ada awan hitam tebal yang menutupinya, hingga titik-titik gerimis membasahi halaman. Sore itu kami curhat satu sama lain, aku iseng memutar lagu padi menanti sebuah jawaban.

          “jiah lagunya beginian.” Mata Mega melirik Eugenie.
          “Ngeledek mulu sih lo pada, ganti kenapa lagunya.” Rengek Eugenie.
          “Yang punya HP siapa?”
          “Lo.”
          “ Yaudah terserah gue dong ‘Gen”
Setulusnya aku akan terus menunggu
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu
Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku
Semoga kau tau isi hatiku
Dan seiring waktu yang terus berputar
Aku masih terhanyut dalam mimpiku

Awalnya aku dan yang lain hanya ledek-ledekan dan bercanda tapi ditepat pada lirik itu Eugenie meneteskan airmatanya. Aku dan yang lain sedikit merapat. Ia pun mencurahkan semua unek-unek tentang kak Garry.

          “Ke-enam kalinya dia nangis karena Garry” Bisik Mega ke aku
          “Hah? Lo ngitungin? Masa sih seorang Eugenie yang agak diragukan tentang cewek atau cowoknya bisa nangis enam kali? Buat cowo lagi?” Tanyaku ngga percaya.
Eugenie memang tersakiti dengan sikap dingin kak Garry padanya tapi perasaannya tak pernah berubah, malah mungkin bertambah. Ia pun tidak menyerah begitu saja. Karena dukungan dari aku dan yang lain ia berencana memberikan stick drum pada kak Garry karena ia  adalah pemain drum. Sesuai dengan perkataannya, perjuangan terakhirnya saat wisudaan nanti ia akan memberikannya itu pun nanti.

          “Gue kangen Garry nih. Kelas XII udah ngga akan masuk lagi.”
          “Sabar ya ‘Gen, tapi tadi gue liat ada yang masuk.”
          “Iya ada beberapa, tapi orang kayak Garry mana mau dateng kesekolah buat main doang?”
          “Tanyain kabarnya dong lewat sms atau Fb” ledek Mercy

          Hari itu juga Eugenie iseng-iseng lagi mengirim ucapan selamat buat kak Garry karena telah menyelesaikan ujian melalui sms dan Fb dan ngga disangka itu dibales sama kak Garry. Eugenie yang girangnya bukan main langsung memberi kabar padaku dan yang lain. Terdengar sepele sih tapi engga buat Eugenie karena ini pertama kalinya kak Garry bersikap seperti itu. Aku sebagai temannya ikut senang dengan semua ini. Ternyata perjuangan Eugenie yang tadinya nampak sia-sia kini terlihat hasilnya. Yah paling tidak ia bisa menjalin pertemanan dengan kak Garry sekarang itukan bisa jadi lampu hijau buat Eugenie.

Dua hari kemudian disekolah
          “Gue butuh air ayo ah kekantin!!!!!!.” Kata Mega dengan gaya berlebihannya. “MERCY !!!! Cepet kenapa haus ni gue” menarik tangan Mercy.
          “Mas Nescafe 3 dong.” Kataku pada penjual minuman dkantin
          “Millo 2 ya mas” kata Eugenie
          “Kok ngga ganti baju sih? Kan udah bel dari tadi.”
          “Baru selesai olahraganya beli minum dulu aus.” Sahut Eugenie dingin tanpa menengok.
          “Sombong banget deh, kemarin baru nge-wall
          “Eh… hmmm maaf ka ngga tau.” Eugenie pun salah tingkah sendiri ketika melihat kasebelah kanannya mendapati kak Garry disampingnya dan bukan hanya itu, yang tadi mengajaknya ngobrol adalah kak Garry. Aku aja melongo melihat kejadian itu.
          “’Gen duluan ya mau ke pendopo, tadi janjian sama temen-temen di pendopo.”
          “Oh iya ka.” Sahut Eugenie dan menebar senyum paling manis yang ia punya. Kak Garry pun berlalu meninggalkan Eugenie.
          “huahahaha cie yang di ajak ngomong ma Garry” Ledek  aku dan yang lain.
“Gue ngga mimpi kan?” tanyanya ngga percaya.
          “ngga kok Eugenie sayang, itu hasil usaha lo” Kata Regina dengan senyumnya dan juga senyumku dan yang lain.

          Aku melihat mata Eugenie berkaca-kaca ketika sampainya dikelas, senang rasanya melihat dia bahagia. Aku dan yang lain memeluknya. Walaupun dia belum menjadi siapa-siapanya kak Garry, tapi paling tidak ia bisa menjalin persahabatan ataupun pertemanan dengan kak Garry itu sudah cukup jadi lampu hijau. Gelar kak Garry yang dingin telah kuhapus jauh-jauh dari pikiranku karena ia berbeda jika sudah mengenalnya.

╬╬╬╬╬╬

0 komentar:

Post a Comment

 

Maria Dorra's Room Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez