Untuk Ayesha



Hari ini hari keduaku belajar di SMA. SMA Budi Mulya, sekolah yang sama dengan kakakku Audinna Ayesha. Mungkin akan lebih banyak lagi yang membandingkan aku dengan dia yang super duper lebih. Kak Ayesha cantik, pintar, lincah, apalagi jika sedang menari, mahir bermain piano dan pokoknya dia lebih. Ya itulah dia dimata Ayah dan Bunda yang selalu membela dia. Dan aku? Tidak pernah ada apa-apanya. Bunda mengatakan orang hidup jangan hanya memiliki kemampuan akademik tapi juga harus memiliki kelebihan yang lain seperti menari, main piano dan semua yang disebutkan Bunda itu adalah yang Kak Ayesha biasa lakukan. Main voli, menulis, dan memasak itu kelebihan juga kan? Tapi bunda dan ayah selalu menyepelekan aku..
            Sesampaiku dikelas teman-teman laki-lakiku menghampiri aku dan sesuai dengan dugaanku mereka menanyakan tentang kak Ayesha. “Kamu adik Ayesha, Rey?” atau “Kak Ayes udah punya pacar?” atau sekedar mengatakan “Rey salam ya untuk kakak kamu, dia cantik dan keren banget”. Untuk lagu Satu Nusa Satu Bangsa sudah terdengar, pertanda bahwa sudah masuk dan pelajaran pertama…. Oh tidak Bu Yayu dengan pelajaran sejarah yang tidak aku suka, tak apalah setidaknya menyelamatkanku dari banyak pertanyaan tentang kakaku yang membuat aku iri.
Sepulang sekolah tidak langsung pulang tetapi ke Mc Cafe Cibubur dengan Friska teman sebangkuku dan disana aku bertemu dengan kak Feandri, kakak kelas yang menurutku paling baik saat MOS. Dia baik sekali denganku, sepertinya di suka denganku atau hanya aku yang terlalu percaya diri. Aku berbaring sebentar di kamarku.
            “Rey, Reyna, Rey kamu dimana? Reyna aku seneng banget aku bawa kabar baik Rey.” Terdengar suara Kak Ayesha berlari dan berteriak sepertinya dia bahagia sekali.
            “Reyna dikamar kak, kenapa?”, sahutku.
            “Aku tadi dari Istora Senanyan cari tahu tentang lomba yang kemaren itu loh dan kamu tahu Rey? Sekolah kita menang, aku sama timku menang aaaa aku seneng banget juara 2 Rey, menang lagi.” teriaknya dengan tak henti-hentinya memelukku.
            “Waaaahh selamat kakakku cantik, tarian apa?”
            “Kreasi tradisional, aku mau bilang sama Ayah Bunda ah dadah jelek mmuach aku telpon  mereka dulu ya.”
Aku kagum dengan prestasi kakakku, hampir disetiap lomba yang ia ikuti selalu menang dari kelas satu bahkan dari SMP. Sebenarnya aku sayang dengan kakakku tapi aku hanya tidak suka dengan orang-orang disekitar yang membandingkan kami, kami dua pribadi ya jelas berbeda. Tapi jujur aku sayang dengan kakak perempuanku satu-satunya, aku juga sangat bangga dengan dia.
            “Rey kata Ayah sama Bunda kita disuruh siap-siap nanti sore kita dijemput mau makan malam diluar.”
▓░░▓
            “Iya Bun katanya ini lanjut ketingkat provinsi” cerita kak Ayes bersemangat.
            “Bagus dong sayang, tapi belajar jangan ditinggalin loh ya, Ayah sama Bunda nggak akan ngebolehin lagi kalau begitu nanti.” Sahut Ayah.
            “Iya, tenang aja, aku kan calon dokter. Reyna nanti kamu juga masuk IPA terus jadi dokter ya sama kaya aku jadi kalau aku sakit kamu bisa nyembuhin aku.” Pinta kak Ayes
            “Aku maunya jadi manager ah masuk IPS nggak suka darah dan segala macamnya yang berhubungan dengan kedokteran.” Jawabku memecah tawa Ayah, Bunda dan kak Ayes. Handphoneku bergetar. Ada sms. Kak Feandri? Aku lansung tersenyum saat tahu sms itu darinya.
           Kak Feandri (+6285791911xxx)
       Reyna bsk aku jemput km ya.
  Jgn lupa. Good night.
            Aku yang mendapat sms itu dari kak Feandri lantas meminta pulang untuk istirahat. Mulai dari keluar restoran aku tak berhenti tersenyum. Tidak sabar untuk esok dijemput sama kak Feandri yeay! Saat aku sedang melamun seperti itu kak Ayesha terjatuh seperti tersandung, tapi tersandung apa? Didepan restoran itu tidak aka apa-apa. Dan tak lama saat sudah dekat mobil ia juga jatuh lagi.
            “Kenapa sih kak? Ngantuk?”
            “Iya kamu kenapa Yes?” tanya bunda memperjelas.
            “Ng…gak” jawab kak Ayes agak gagap. Kenapa ya kak Ayes kok aneh, yasudahlah mungkin capek.
            Saat pagi datang, aku dijemput kak Feandri dan raut muka kak Ayesha seperti menyimpan sesuatu, atau kak Ayesha suka dengan kak Feandri? Apa dia menyukai kak Feandri? Disekolah kak Ayesha masih tetap aneh karena dia sering jatuh, cara dia berjalan seperti orang tidak punya keseimbangan. Aku tanya apa dia sakit, dia selalu menjawab jawab tidak. “Kenapa ya kak Ayesha? Aku harus perhatikan kak Ayesha lebih kalau begini ceritanya.” Kataku dalam hati.
            Siang sepulang sekolah kak Ayesha latihan tari di pendopo sekolah, aku disuruh  pulang lebih dahulu, tapi aku putuskan untuk menunggunya. Karena aku takut terjadi apa-apa dengannya. Dan benar, gerakan kak Ayesha terlihat aneh, dia tidak menangkap apa yang disepakati teman-temannya, aku lalu meminta izin untuk kakak Ayesha tidak melanjutkan latihan. Aku menanyakan kenapa selalu dijawab tidak apa-apa. Aku merasa aneh dengan kak Ayesha. Takut terjadi apa-apa, segera kubawa kak Ayesha ke dokter.
            “Ini dok, kakak saya belakangan ini aneh, sering tidak bisa mengatur keseimbangan tubuhnya, juga seperti kehilangan koordinasi tubuh, sering sekali jatuh”
            “Aku nggak apa-apa Rey, hanya sering keram sedikit kok, jangan berlebihan.”
            “Iya kakak nggak apa-apa kok, Cuma mau diperiksa. Silakan dok.” Setelah dokter periksa, ia memperkirakan kakak terkena Ataxia Episodic Type 1, sering mengalami keram (kejang otot), ketidak terkoordinasinya tubuh dan gangguan keseimbangan serta timbulnya pergerakan tubuh yang tidak disengaja, tetapi dokter meminta untuk kak Ayesha periksa lebih lanjut. Setahu aku itu penyakit parah, dan kak Ayesha… aku tidak mau terjadi sesuatu apapuun pada dirinya.
            “Udah ayo tidur kak, kakak harus istirahat cukup. Aku tidur dikamar kakak, aku mau jagain kakak. Nggak perlu bawel besok lusa kita ambil hasil pemeriksaan kakak.” Saat aku tidur aku sadar kalau kak Ayesha mengajak bicara aku yang pura-pura tertidur.
            “Aku sayang kamu Rey, aku sebenernya udah tahu aku sakit, tapi aku tidak tahu kalau akan tambah parah seperti ini. Reyna aku mau jujur aku suka dan sayang sama Feandri dari kelas satu, tapi dia lebih milih kamu Rey, dia tidak pernah seperti itu ke perempuan Rey, hanya ke kamu, berarti dia sayang kamu. Aku rela Rey kalau itu untuk kamu, aku rela kamu sama dia. Aku sayang kalian  berdua dan toh aku sebentar lagi pergi.” Kata kak Ayesha mengelus kepalaku. Kata-kata kak Ayesha membuat aku tidak bisa nahan air mata aku, aku akan jauhi kak Feandri dan minta dia menemani kak Ayesha terus.  Aku rela sakit demi kak Ayesha. Setelah kak Ayesha tidur ternyata kak Feandri menelpon.
            “….halloo kenapa malam-malam telpon?”
            “Aku hanya mau bilang selamat tidur kok
            “Yudah, udah kan barusan? Terus? Udah kan daaa”
            “Rey Rey jangan ditutup Rey, kamu kenapa? Kok aneh? Aku hanya mau bilang aku sayang kamu”
            “Kak tapi aku nggak bisa yang sayang sama kakak itu kak Ayesha dari kelas satu malah. Kak Ayesha lebih segalanya dari aku”
            “Tapi aku sayangnya sama kamu Rey bukan sama Ayesha”
            “Kalau begitu aku boleh minta tolong? Kakak jauhin aku, sayangi kak Ayesha, temani dia, hibur dia dan semangati dia buat aku. Aku harap kak Feandri ngebuktiin sayangnya ke aku. Aku mohon dan terakhir aku mau bilang…..aku juga sayang kak Feandri dari awal ketemu kakak….tut..tuuuttt.tuuuttt”
▓░░▓
            Hasil pemeriksaannya positif kak Ayesha terjangkit Ataxia Episodic Type 1 dan kak Ayesha tidak mau aku katakan ke Ayah dan Bunda, aku hanya jawab aku tidak janji untuk tidak mengatakannya. Keadaan kak Ayesha makin hari maki jadi. Kompetisi itu kompetisi terakhir untuk ka Ayesha karna dia sudah tidak bisa menari lagi. Aku tau perasaannya,pasti sedih. Kak Feandri juga terus menemani dia sesuai permintaanku, awalnya sakit tapi tidak lagi jika untuk kak Ayesha. Kak Feandri menepati janji untuk selalu membuat kak Ayesha tersenyum hingga semangat kak Ayesha bangkit lagi untuk sehat.
            Dipenghujung semester kak Ayesha masuk rumah sakit dan aku tidak bisa menutupi semua itu lagi karena keadaanya makin parah. Ayah dan Bunda tahu perkataan dokter tentang umur kak Ayesha yang tidak lama lagi. Ayah dan Bunda tak tahan melihat kak Ayesha yang terbujur lemah, mereka selalu meneteskan air mata mereka, begitu juga aku. Bahkan teman-teman dan guru-guru semua menjenguk dia sekedar memberi semangat.
            Hari itu kak Ayesha tak mau melepaskan tanganku dari tangannya. Ia meneteskan airmata terus menerus. Dia bertanya padaku tentang jurusan aku selanjutnya. Aku tak kuasa menahan air mata karena untuk bicara itu pun kak Ayesha susah bicara. Aku menjawab aku masuk IPA dan aku akan meneruskan cita-cita kakak, menjadi dokter. “Aku akan menjadi dokter seperti yang kakak mau. Menyembuhkan kakak dan menyembuhkan orang sakit.” Itu kataku dalam hati. Dan ternyata itu pembicaraanku yang terakhir dengan kakakku. Ia tidak kuat lagi, alat-alat dokter itu sudah tidak membantu lagi. Seketika ruangan itu menjadi penuh dengan teriakan panggilan dokter dan suster dan tangisan. Kak Ayesha aku sayang kakak, kakak tidak akan merasakan sakit itu lagi. Aku janji, aku akan jadi dokter dan menggantikan apa yang bisa aku gantikan untuk Ayah dan Bunda, walaupun aku tahu untuk mereka kehilangan anak kesayangan seperti kak Ayesha itu amat sangat berat kak, aku janji jadi yang terbaik untuk keluarga kak, sekarang kaka tidak akan merasa sakit lagi. Selamat jalan kak aku sayang sekali dengan kakak.

No comments:

Post a Comment

Saturday, October 22, 2011

Untuk Ayesha




Hari ini hari keduaku belajar di SMA. SMA Budi Mulya, sekolah yang sama dengan kakakku Audinna Ayesha. Mungkin akan lebih banyak lagi yang membandingkan aku dengan dia yang super duper lebih. Kak Ayesha cantik, pintar, lincah, apalagi jika sedang menari, mahir bermain piano dan pokoknya dia lebih. Ya itulah dia dimata Ayah dan Bunda yang selalu membela dia. Dan aku? Tidak pernah ada apa-apanya. Bunda mengatakan orang hidup jangan hanya memiliki kemampuan akademik tapi juga harus memiliki kelebihan yang lain seperti menari, main piano dan semua yang disebutkan Bunda itu adalah yang Kak Ayesha biasa lakukan. Main voli, menulis, dan memasak itu kelebihan juga kan? Tapi bunda dan ayah selalu menyepelekan aku..
            Sesampaiku dikelas teman-teman laki-lakiku menghampiri aku dan sesuai dengan dugaanku mereka menanyakan tentang kak Ayesha. “Kamu adik Ayesha, Rey?” atau “Kak Ayes udah punya pacar?” atau sekedar mengatakan “Rey salam ya untuk kakak kamu, dia cantik dan keren banget”. Untuk lagu Satu Nusa Satu Bangsa sudah terdengar, pertanda bahwa sudah masuk dan pelajaran pertama…. Oh tidak Bu Yayu dengan pelajaran sejarah yang tidak aku suka, tak apalah setidaknya menyelamatkanku dari banyak pertanyaan tentang kakaku yang membuat aku iri.
Sepulang sekolah tidak langsung pulang tetapi ke Mc Cafe Cibubur dengan Friska teman sebangkuku dan disana aku bertemu dengan kak Feandri, kakak kelas yang menurutku paling baik saat MOS. Dia baik sekali denganku, sepertinya di suka denganku atau hanya aku yang terlalu percaya diri. Aku berbaring sebentar di kamarku.
            “Rey, Reyna, Rey kamu dimana? Reyna aku seneng banget aku bawa kabar baik Rey.” Terdengar suara Kak Ayesha berlari dan berteriak sepertinya dia bahagia sekali.
            “Reyna dikamar kak, kenapa?”, sahutku.
            “Aku tadi dari Istora Senanyan cari tahu tentang lomba yang kemaren itu loh dan kamu tahu Rey? Sekolah kita menang, aku sama timku menang aaaa aku seneng banget juara 2 Rey, menang lagi.” teriaknya dengan tak henti-hentinya memelukku.
            “Waaaahh selamat kakakku cantik, tarian apa?”
            “Kreasi tradisional, aku mau bilang sama Ayah Bunda ah dadah jelek mmuach aku telpon  mereka dulu ya.”
Aku kagum dengan prestasi kakakku, hampir disetiap lomba yang ia ikuti selalu menang dari kelas satu bahkan dari SMP. Sebenarnya aku sayang dengan kakakku tapi aku hanya tidak suka dengan orang-orang disekitar yang membandingkan kami, kami dua pribadi ya jelas berbeda. Tapi jujur aku sayang dengan kakak perempuanku satu-satunya, aku juga sangat bangga dengan dia.
            “Rey kata Ayah sama Bunda kita disuruh siap-siap nanti sore kita dijemput mau makan malam diluar.”
▓░░▓
            “Iya Bun katanya ini lanjut ketingkat provinsi” cerita kak Ayes bersemangat.
            “Bagus dong sayang, tapi belajar jangan ditinggalin loh ya, Ayah sama Bunda nggak akan ngebolehin lagi kalau begitu nanti.” Sahut Ayah.
            “Iya, tenang aja, aku kan calon dokter. Reyna nanti kamu juga masuk IPA terus jadi dokter ya sama kaya aku jadi kalau aku sakit kamu bisa nyembuhin aku.” Pinta kak Ayes
            “Aku maunya jadi manager ah masuk IPS nggak suka darah dan segala macamnya yang berhubungan dengan kedokteran.” Jawabku memecah tawa Ayah, Bunda dan kak Ayes. Handphoneku bergetar. Ada sms. Kak Feandri? Aku lansung tersenyum saat tahu sms itu darinya.
           Kak Feandri (+6285791911xxx)
       Reyna bsk aku jemput km ya.
  Jgn lupa. Good night.
            Aku yang mendapat sms itu dari kak Feandri lantas meminta pulang untuk istirahat. Mulai dari keluar restoran aku tak berhenti tersenyum. Tidak sabar untuk esok dijemput sama kak Feandri yeay! Saat aku sedang melamun seperti itu kak Ayesha terjatuh seperti tersandung, tapi tersandung apa? Didepan restoran itu tidak aka apa-apa. Dan tak lama saat sudah dekat mobil ia juga jatuh lagi.
            “Kenapa sih kak? Ngantuk?”
            “Iya kamu kenapa Yes?” tanya bunda memperjelas.
            “Ng…gak” jawab kak Ayes agak gagap. Kenapa ya kak Ayes kok aneh, yasudahlah mungkin capek.
            Saat pagi datang, aku dijemput kak Feandri dan raut muka kak Ayesha seperti menyimpan sesuatu, atau kak Ayesha suka dengan kak Feandri? Apa dia menyukai kak Feandri? Disekolah kak Ayesha masih tetap aneh karena dia sering jatuh, cara dia berjalan seperti orang tidak punya keseimbangan. Aku tanya apa dia sakit, dia selalu menjawab jawab tidak. “Kenapa ya kak Ayesha? Aku harus perhatikan kak Ayesha lebih kalau begini ceritanya.” Kataku dalam hati.
            Siang sepulang sekolah kak Ayesha latihan tari di pendopo sekolah, aku disuruh  pulang lebih dahulu, tapi aku putuskan untuk menunggunya. Karena aku takut terjadi apa-apa dengannya. Dan benar, gerakan kak Ayesha terlihat aneh, dia tidak menangkap apa yang disepakati teman-temannya, aku lalu meminta izin untuk kakak Ayesha tidak melanjutkan latihan. Aku menanyakan kenapa selalu dijawab tidak apa-apa. Aku merasa aneh dengan kak Ayesha. Takut terjadi apa-apa, segera kubawa kak Ayesha ke dokter.
            “Ini dok, kakak saya belakangan ini aneh, sering tidak bisa mengatur keseimbangan tubuhnya, juga seperti kehilangan koordinasi tubuh, sering sekali jatuh”
            “Aku nggak apa-apa Rey, hanya sering keram sedikit kok, jangan berlebihan.”
            “Iya kakak nggak apa-apa kok, Cuma mau diperiksa. Silakan dok.” Setelah dokter periksa, ia memperkirakan kakak terkena Ataxia Episodic Type 1, sering mengalami keram (kejang otot), ketidak terkoordinasinya tubuh dan gangguan keseimbangan serta timbulnya pergerakan tubuh yang tidak disengaja, tetapi dokter meminta untuk kak Ayesha periksa lebih lanjut. Setahu aku itu penyakit parah, dan kak Ayesha… aku tidak mau terjadi sesuatu apapuun pada dirinya.
            “Udah ayo tidur kak, kakak harus istirahat cukup. Aku tidur dikamar kakak, aku mau jagain kakak. Nggak perlu bawel besok lusa kita ambil hasil pemeriksaan kakak.” Saat aku tidur aku sadar kalau kak Ayesha mengajak bicara aku yang pura-pura tertidur.
            “Aku sayang kamu Rey, aku sebenernya udah tahu aku sakit, tapi aku tidak tahu kalau akan tambah parah seperti ini. Reyna aku mau jujur aku suka dan sayang sama Feandri dari kelas satu, tapi dia lebih milih kamu Rey, dia tidak pernah seperti itu ke perempuan Rey, hanya ke kamu, berarti dia sayang kamu. Aku rela Rey kalau itu untuk kamu, aku rela kamu sama dia. Aku sayang kalian  berdua dan toh aku sebentar lagi pergi.” Kata kak Ayesha mengelus kepalaku. Kata-kata kak Ayesha membuat aku tidak bisa nahan air mata aku, aku akan jauhi kak Feandri dan minta dia menemani kak Ayesha terus.  Aku rela sakit demi kak Ayesha. Setelah kak Ayesha tidur ternyata kak Feandri menelpon.
            “….halloo kenapa malam-malam telpon?”
            “Aku hanya mau bilang selamat tidur kok
            “Yudah, udah kan barusan? Terus? Udah kan daaa”
            “Rey Rey jangan ditutup Rey, kamu kenapa? Kok aneh? Aku hanya mau bilang aku sayang kamu”
            “Kak tapi aku nggak bisa yang sayang sama kakak itu kak Ayesha dari kelas satu malah. Kak Ayesha lebih segalanya dari aku”
            “Tapi aku sayangnya sama kamu Rey bukan sama Ayesha”
            “Kalau begitu aku boleh minta tolong? Kakak jauhin aku, sayangi kak Ayesha, temani dia, hibur dia dan semangati dia buat aku. Aku harap kak Feandri ngebuktiin sayangnya ke aku. Aku mohon dan terakhir aku mau bilang…..aku juga sayang kak Feandri dari awal ketemu kakak….tut..tuuuttt.tuuuttt”
▓░░▓
            Hasil pemeriksaannya positif kak Ayesha terjangkit Ataxia Episodic Type 1 dan kak Ayesha tidak mau aku katakan ke Ayah dan Bunda, aku hanya jawab aku tidak janji untuk tidak mengatakannya. Keadaan kak Ayesha makin hari maki jadi. Kompetisi itu kompetisi terakhir untuk ka Ayesha karna dia sudah tidak bisa menari lagi. Aku tau perasaannya,pasti sedih. Kak Feandri juga terus menemani dia sesuai permintaanku, awalnya sakit tapi tidak lagi jika untuk kak Ayesha. Kak Feandri menepati janji untuk selalu membuat kak Ayesha tersenyum hingga semangat kak Ayesha bangkit lagi untuk sehat.
            Dipenghujung semester kak Ayesha masuk rumah sakit dan aku tidak bisa menutupi semua itu lagi karena keadaanya makin parah. Ayah dan Bunda tahu perkataan dokter tentang umur kak Ayesha yang tidak lama lagi. Ayah dan Bunda tak tahan melihat kak Ayesha yang terbujur lemah, mereka selalu meneteskan air mata mereka, begitu juga aku. Bahkan teman-teman dan guru-guru semua menjenguk dia sekedar memberi semangat.
            Hari itu kak Ayesha tak mau melepaskan tanganku dari tangannya. Ia meneteskan airmata terus menerus. Dia bertanya padaku tentang jurusan aku selanjutnya. Aku tak kuasa menahan air mata karena untuk bicara itu pun kak Ayesha susah bicara. Aku menjawab aku masuk IPA dan aku akan meneruskan cita-cita kakak, menjadi dokter. “Aku akan menjadi dokter seperti yang kakak mau. Menyembuhkan kakak dan menyembuhkan orang sakit.” Itu kataku dalam hati. Dan ternyata itu pembicaraanku yang terakhir dengan kakakku. Ia tidak kuat lagi, alat-alat dokter itu sudah tidak membantu lagi. Seketika ruangan itu menjadi penuh dengan teriakan panggilan dokter dan suster dan tangisan. Kak Ayesha aku sayang kakak, kakak tidak akan merasakan sakit itu lagi. Aku janji, aku akan jadi dokter dan menggantikan apa yang bisa aku gantikan untuk Ayah dan Bunda, walaupun aku tahu untuk mereka kehilangan anak kesayangan seperti kak Ayesha itu amat sangat berat kak, aku janji jadi yang terbaik untuk keluarga kak, sekarang kaka tidak akan merasa sakit lagi. Selamat jalan kak aku sayang sekali dengan kakak.

0 komentar:

Post a Comment

 

Maria Dorra's Room Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez